Tai, Tanah dan Manusia
Oleh Barid Hardiyanto
Pluk, aaaaaahhhhhhh!
Alkisah ada sekelereng kecil tai kambing yang jatuh menggelinding dari peraduannya -tepatnya dipantat seekor kambing. “Untung struktur tubuhku lentur,” ujarnya. Sayang, sejurus kemudian sang kambing, “induknya” menginjak dirinya hingga lepes.
Pessssss
Sejurus kemudian bersama, teman-temannya yang senasib merasakan betapa tersia-sianya mereka. “Aduh!” keluh mereka serentak. Tapi keluhan tersebut berganti rasa senang karena akhirnya dengan kaki si kambing mereka dapat dipersatukan. Menjadi persatuan perkumpulan tai kambing. Sayangnya, tidak semua dapat terbawa oleh kaki kambing yang kecil.
Cerita berlanjut…..
Perkumpulan tai kambing tersebut kemudian terbawa ke sana kemari oleh si kambing. Tentu, kau tak usah bertanya penyebabnya. Singkatnya, si kambing berkelana ke sana ke mari mencari makanan rumput. Hingga sebagian darinya dalam perjalanan tersebut kembali tercerai berai. Sekelereng diantaranya masih terbawa, tentu saja oleh si kambing.
Perjalanan kambing, kali ini cukup memakan waktu. Karena rumput disekitarnya telah kering sebab tanah sudah tak lagi subur. Hingga akhirnya, si kambing menemukan tempat yang cukup nyaman untuk makan rumput, tepatnya di sekitar sawah Pak Arto Alit. Di sawah itulah, si kambing berkeliaran. Hingga tanpa terasa, ia telah melemparkan sang tai ke tanah di dekat pematang sawah.
***
“Hallo tanah,” ujar tai.
“Hallo juga,” jawab tanah.
“Bolehkah kita bersahabat”, kata tai mengajak tanah untuk bersahabat
“Dengan senang hati,” jawab tanah.
Tak lama kemudian….
Mereka saling bersenda gurau, berguling bersama, bertukar pengalaman tentang kehidupan mereka. Si tanah bertutur tentang keadaan dirinya yang sudah tidak lagi gembur karena pupuk kimia yang terus dijejalkan Pak Arto Alit. “Lama kelamaan, tubuhku kering karena dipaksa bergaul dengan pupuk buatan pabrik,” katanya menyesali diri. Akibatnya, si tanah setiap hari mendapat umpatan dari Pak Arto Alit karena ia sudah tidak dapat lagi berproduksi dengan baik. Dan sebagai sanksinya, tanah kembali dijejali pupuk. Terus, begitu terus berlangsung hingga si tanah akhirnya bertemu dengan tai.
Mendengar keluh kesah dari tanah, tai menjadi terharu dan menangis tersedu-sedu. Tangisan tersebut tanpa sengaja justru membuat mereka berdua “bersetubuh”, hingga menjadi satu.
Di lain tempat berdekatan dengan kedua insan tersebut, tai kambing dan tanah lainnya juga saling bersahabat, bertukar pengalaman dan keluhan. Si tai, tentu juga turut menceritakan deritanya. Dan yang paling parah, adalah anggapan terhadapnya sebagai biang kotor dan penyakit.
Lama, perkawanan dan persetubuhan tersebut terus berlangsung. Si kambing sudah berulang kali datang ke sawah tersebut dan membawa (tanpa sengaja) tai-tai lainnya. Dan seperti yang sudah-sudah. Tai, tanah dan uraian air mata mereka terus menyatu, bersetubuh. Perkawanan sesama tersia-sia membuat mereka bersemangat bangkit dari hidupnya. “Mari bersama, merubah nasib kita. Bukankah Tuhan kita juga menyeru demikian,” ujar tai mengingatkan pada Sang Pencipta. Si tanah, sepakat dengan keinginan tersebut. Mereka berdua kemudian mengajak teman-teman lainnya untuk bersatu melakukan perubahan.
Bersama-sama mereka membangun diri, mempersiapkan kebutuhan mereka, mempelajari banyak hal soal perubahan, membangun jaringan dengan pihak-pihak lain. Singkatnya tai, tanah, air dan senyawa lainnya bersatu dalam satu organisasi yang menyebut dirinya “kekuatan perubah dan pencipta dunia lain”.
Dunia lain pasti ada. Di dunia ini tidak hanya pupuk putih bersih buatan pabrik yang bisa berguna. Kita harus menciptakan dunia baru yang saling cocok. Demikian kira-kira semangat mereka untuk melakukan perubahan.
Waktu terus berjalan, Pak Arto Alit yang tak lain hanyalah pemilik sawah dengan uang yang sedikit tak mampu lagi membeli pupuk kimia yang harganya terus meninggi karena ditentukan oleh pabrik pembuatnya (dan seperti yang sudah lazim terjadi si pabrik pembuat pupuk adalah pengusaha yang tak mau berbagi teknologi, sering menyuap pejabat agar pupuknya laku dan sebagainya, intinya merekalah yang merusak negeri tai dan tanah).
Sambil duduk termenung, Pak Arto mencoba mengurai kegagalannya dalam bertani. Tanpa sengaja ratapan kesedihan tersebut telah membuatnya menjatuhkan tetesan air mata yang membuat tai dan tanah merasakan getaran Pak Arto Alit. Dan akhirnya, keduanya sepakat untuk terus menyatukan diri dalam organisasi kekuatan perubah.
Waktu demi waktu terus berjalan…..
Tai, tanah, air, tetesan air mata dan senyawa lainnya terus menguatkan diri dalam organisasinya. Semakin lama semakin banyak saja yang mau bergabung. Dan akhirnya, jadilah suatu kekuatan yang dapat memberi andil bagi secuil tanah yang dimiliki Pak Arto Alit. Singkat cerita, tanah di sawah Pak Arto Alit kembali menggembur. Hal itu membuat Pak Arto turut gembira dan kembali bersemangat untuk bertani. “Terima kasih tai dan tanah. Kalian telah menyadarkan aku bahwa persaudaraan antar sesama tersia-sia akan memberikan kebahagian untuk orang lain dan diri sendiri”, renung Pak Arto Alit.
Nb.: Maukah engkau jadi tai? Kalau tidak, tak apa. Tapi aku betul-betul ingin jadi tai.
* Sekarang ini, ia juga bekerja, berorganisasi dan berjuang di ornop Lembaga Penelitian, Pengembangan Sumber Daya dan Lingkungan Hidup (LPPSLH) Dia bisa dihubungi di E-mail: baridprorev@yahoo.com atau Telp. 081510084940.
